Monday, July 16, 2018

Analisis Pengaruh Ekspor, Inflasi dan Utang Luar Negeri Terhadap Cadangan Devisa di Indonesia Periode 1988-2017(mini skripsi)


Analisis Pengaruh Ekspor, Inflasi dan Utang Luar Negeri Terhadap Cadangan Devisa Indonesia Periode 1988-2017
Diajukan sebagai salah satu tugas Mata Kuliah Modeling Konsentrasi Moneter

Image result for untirta 
Oleh :
FIKRI FAUZI
NIM.5553150087
Kelas 6A


JURUSAN ILMU EKONOMI PEMBANGUNAN
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
SERANG
2018


BAB I
                                                  PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Indonesia merupakan salah satu negara berkembang dimana negara Indonesia banyak melakukan pembangunan di segala bidang untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Salah satu sumber pendanaan penting yang digunakan Indonesia untuk melaksanakan pembangunan nasional adalah devisa. 
Cadangan devisa dapat menjadi suatu indikator yang penting untuk melihat sejauh mana negara dapat melakukan perdagangan internasional dan untuk menunjukkan kuat lemahnya fundamental perekonomian suatu negara. Indonesia sendiri memiliki ketersediaan cadangan devisa sedikit yang menyebabkan Indonesia tidak mampu melakukan pembayaran internasional dan stabilisasi yang mengakibatkan terjadinya defisit neraca pembayaran.
Beberapa faktor yang mempengaruhi cadangan devisa yaitu ekspor, tingkat inflasi dan utang luar negeri. Hubungan ekspor terhadap cadangan devisa adalah dalam melakukan kegiatan ekspor maka suatu negara akan memperoleh berupa nilai sejumlah uang dalam valuta asing atau biasa disebut dengan istilah devisa, yang juga merupakan salah satu sumber pemasukan negara. Sehingga apabila tingkat ekspor mengalami penurunan, maka akan diikuti dengan ikut menurunnya cadangan devisa yang dimiliki.
Apabila harga-harga barang dan sektor jasa cenderung mengalami kenaikan, atau disebut dengan inflasi, maka akan menyebabkan terhambatnya kegiatan perekonomian di negara bersangkutan. Sehingga negara membutuhkan lebih banyak devisa untuk dapat bertransaksi di luar negara.
Utang luar negeri dapat digunakan sebagai faktor yang mampu dimanfaatkan untuk menambah cadangan devisa negara. Penggunaan utang luar negeri diharapkan mampu meningkatkan investasi negara sehingga dapat merangsang pertumbuhan ekonomi negara semakin cepat. Beban utang luar negeri dapat diukur salah satunya dengan melihat proporsi penerimaan devisa pada current account yang berasal dari ekspor yang diserap oleh seluruh debt service yang berupa bunga dan cicilan utang (Atmadja, 2000). Devisa yang masuk ke suatu negara bisa saja dalam bentuk pembayaran ekspor, investasi, bantuan bilateral dan pinjaman.
1.2. Rumusan Masalah
1.      Bagaimana pengaruh ekspor terhadap cadangan devisa?
2.      Bagaimana pengaruh inflasi terhadap cadangan devisa?
3.      Bagaimana pengaruh utang luar negeri terhadap cadangan devisa?
1.3. Tujuan Penelitian
1.      Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh ekspor terhadap cadangan devisa
2.      Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh inflasi terhadap cadangan devisa
3.      Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh utang luar negeri terhadap cadangan devisa
1.4. Manfaat Penelitian
1.      Sebagai bahan studi dan tambahan ilmu pengetahuan bagi mahasiswa Fakultas Ekonomi dan bisnis terutama jurusan Ekonomi Pembangunan yang ingin melakukan penelitian selanjutnya.
2.      Sebagai proses pembelajaran dan penambah wawasan ilmiah penulis dalam disiplin ilmu yang penulis tekuni.
3.      Bagi pemerintah, sebagai bahan pertimbangan pengambilan kebijakan pembangunan dan penggunaan cadangan devisa


BAB II
LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS
2.1.       Landasan Teori
2.1.1. Konsep dan Teori Cadangan Devisa
Cadangan devisa merupakan aktiva yang berasal dari luar negeri dalam kurun waktu tertentu dan dikuasai oleh otoritas moneter. Carbaugh (2004) menjelaskan bahwa tujuan utama dari cadangan devisa adalah untuk memfasilitasi pemerintah dalam melakukan intervensi pasar sebagai upaya untuk menstabilkan nilai tukar. Semakin terbuka perekonomian dari suatu negara, maka kebutuhan negara tersebut akan cadangan devisa negara cenderung semakin besar yang digunakan untuk membiayai transaksi perdagangan yang dilakukan.
2.1.2. Konsep dan Teori Ekpor
Kegiatan perdagangan internasional yang memberikan rangsangan guna membutuhkan permintaan dalam negeri yang menyebabkan tumbuhnya industri-industri pabrik besar, bersamaan dengan struktur politik yang stabil dan lembaga sosial yang fleksibel. Berdasarkan uraian di atas, terlihat bahwa ekspor mencerminkan aktivitas perdagangan antarbangsa yang dapat memberikan dorongan dalam dinamika pertumbuhan perdagangan internasional, sehingga suatu negara-negara yang sedang berkembang kemungkinan untuk mencapai kemajuan perekonomian setaraf dengan negara-negara yang lebih maju (Todaro, 2002:49). 
Ekspor adalah pembelian negara lain atas barang buatan perusahaan-perusahaan di dalam negeri. Faktor terpenting yang menentukan ekspor adalah kemampuan dari Negara tersebut untuk mengeluarkan barangbarang yang dapat bersaing dalam pasaran luar negeri. (Sukirno, 2008: 205). Ekspor akan secara langsung mempengaruhi pendapatan nasional. Akan tetapi, hubungan yang sebaliknya tidak selalu berlaku, yaitu kenaikan pendapatan nasional belum tentu menaikkan ekspor oleh karena pendapatan nasional dapat mengalami kenaikan sebagai akibat dari kenaikan pengeluaran rumah tangga, investasi perusahaan, pengeluaran pemerintah dan penggantian barang impor dengan barang buatan dalam negeri. (Sukirno, 2008:206).
2.1.3.  Konsep dan Teori Inflasi
Inflasi merupakan peristiwa dimana harga-harga barang yang ada secara umum mempunyai kecenderungan untuk naik dan terus-menerus
Untuk mencapai perkembangan perekonomian yang lebih baik dan cepat pada tingkat perkembangan yang diperlukan, maka perekonomian dalam suatu negara akan selalu mengalami inflasi. Inflasi dalam ukuran yang normal, diharapkan untuk merangsang produsen agar berproduksi. Inflasi sendiri menurut Boediono (2001) adalah suatu peristiwa dimana harga-harga mempunyai kecenderungan untuk naik secara umum dan terus-menerus. Menurut Boediono (2001), Inflasi dapat digolongkan berdasarkan berat dan ringannya, antara lain :
a. Inflasi ringan adalah inflasi dibawah 10  persen setahun.
b.Inflasi sedang adalah inflasi antara 10-30 persen setahun.
c. Inflasi berat adalah inflasi antara 30-100 persen setahun.
d.          Hiper inflasi adalah inflasi diatas 100 persen setahun.
Untuk ukuran normal yang digunakan agar merangsang produsen meningkatkan produksinya adalah inflasi ringan yaitu inflasi dibawah 10 persen setahun. Oleh karena itu, sesungguhnya inflasi juga diperlukan oleh suatu negara untuk mencapai tingkat perkembangan yang diinginkan.
2.1.4.  Konsep dan Teori Utang Luar Negeri
Utang luar negeri merupakan sebagian dari keseluruhan utang negara yang didapat dari para kreditor di luar negara yang bersangkutan. Bentuk utang dapat berupa uang yang diperoleh dari bank swasta, pemerintah negara lain, atau lembaga keuangan internasional seperti IMF dan Bank Dunia. Menurut pandangan tradisional atas utang pemerintah, pemotongan pajak yang didanai oleh utang mendorong pengeluaran konsumen dan mengurangi tabungan nasional. Utang pemerintah berpotensi memiliki berbagai dampak tambahan utang pemerintah atau defisit anggaran yang besar dapat mendorong ekspansi moneter yang berlebihan dan karena itu menyebabkan inflasi yang lebih besar (Mankiw, 2007).
2.2.      Kerangka Pemikiran
Dari pembahasan diatas maka dapat dipeloleh kerangka pemikiran dalam penelitian ini sebagai berikut :
 







Gambar 2.1 Skema Kerangka Pemikiran Analisis Pengaruh Ekspor, Inflasi dan Utang Luar Negeri terhadap Cadangan Devisa
2.3.      Hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap permasalahan penelitian yang kebenarannya harus diuji secara empiris. Berdasarkan teori dan penelitian terdahulu yang telah dikemukakan sebelumnya, maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah :
1.      Terdapat pengaruh ekspor terhadap cadangan devisa
2.      Terdapat pengaruh inflasi terhadap cadangan devisa
3.      Terdapat pengaruh utang luar negeri terhadap cadangan devisa

BAB III
METODELOGI PENELITIAN
3.1. Jenis dan Sumber Data Penelitian
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang terdiri dari data yang diperoleh dari instansi, atau lembaga yang bersangkutan. Data tersebut merupakan data kuantitatif dan . Data kuantitatif merupakan data time series (deret berkala) dari tahun 1988-2017, yang terdiri dari ekspor, inflasi, utang luar negeri dan cadangan devisa Indonesia berdasarkan laporan tahunan  Bank Indonesia (BI) dan Badan Pusat Statistik (BPS).
3.2. Populasi dan Sampel
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh data ekspor, Inflasi, utang luar negeri dan cadangan devisa Indonesia. Sedangkan, sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Sampel dalam penelitian ini yaitu data ekspor, inflasi, utang luar negeri dan cadangan devisa Indonesia tahun 1988-2017
3.3. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah observasi dan dokumentasi. Data-data diperoleh dari Bank Indonesia dan Badan Pusat Statistik Indonesia. Data yang diperlukan dalam penelitian adalah ekspor, Inflasi, utang luar negeri dan cadangan devisa Indonesia tahun 1988-2017
3.4. Rancangan Analisis Data
3.4.1.       Uji Statistik
1.      Analisis Regresi Berganda
Rancangan analisis yang digunakan oleh penulis untuk menerangkan kerangka dasar perhitungan hubungan antara variabel dependent dan variabel independent didasarkan pada analisa regresi berganda dengan pengolahan data menggunakan program E-views 9.0 Untuk menyederhanakan perhitungan dengan metode ekonometrika, variabel dependent merupakan cadangan devisa dengan variabel (Y) dan variabel independent adalah ekspor (X1), inlasi(X2) dan utang luar negeri (X3). Selanjutnya akan dianalisa dengan cara sebagai berikut :
Metode Analisis Regresi Linier Berganda
Analisa ini digunakan untuk membahas hubungan lebih dari dua variabel. Fungsi persamaannya adalah : 
Y = f ( X1, X2) ............................................(1)
Dengan model persamaan sebagai berikut :
Y = 𝛽0 + 𝛽1.𝑋1 + 𝛽2.𝑋2 + 𝛽3.𝑋3+ ℇ .......(2)
Dimana :
𝛽0        = Konstanta 
𝛽1        = Koefisien Ekspor
𝛽2        = Koefisien inflasi
𝛽3       = Koefisien Utang Luar Negeri
Y         = Cadangan Devisa 
X1       = Ekspor
X2       = Inflasi
X3        = Utang Luar Negeri
         = Error (Variabel Pengganggu)
2.      Analisis Koefisien Regresi(R­2)
Koefisien determinasi (R2) digunakan untuk mengetahui sampai seberapa besar persentase variasi dalam variabel terikat pada model yang diterangkan oleh variabel bebasnya. Dimana apabila nilai R2 mendekati 1, maka terbukti bahwa ada hubungan yang kuat dan erat antara variabel terikat dan variabel bebas dan penggunaan model tersebut dibenarkan.
Koefisien determinasi adalah untuk mengetahui seberapa besar persentase sumbangan variabel bebas terhadap variabel tidak bebas yang dapat dinyatakan  dalam persentase. Dan rumusnya di bawah ini :
Adj R2  =1 – (1 – R2)         ……………….………(III.III)
Di mana :
R2         : Koefisien determinasi
k            : Jumlah variabel independen
n           : Jumlah sampel
3.      Uji Simultan (Uji F)
Uji ini digunakan untuk mengetahui pengaruh variabel independen secara signifikan terhadap variabel dependen. Dimana jika F-hitung > F-tabel, maka H1 diterima atau variabel independen secara bersama-sama dapat menerangkan pengaruhnya terhadap variabel dependen. Sebaliknya jika F-hitung < F-tabel, maka H0 diterima atau variabel independen secara bersama-sama tidak memiliki pengaruh terhadap variabel dependen (tidak signifikan) dengan kata lain perubahan yang terjadi pada variabel terikat tidak dapat dijelaskan oleh variabel independen, dimana tingkat signifikan yang digunakan yaitu 5%. Pengujian hipotesis terhadap koefisien regresi secara bersama-sama digunakan uji F dengan tingkat kepercayaan tertentu yang dapat dirumuskan
sebagai berikut :
Fhit=  ………………………………………….......(III.IV)
Ftabel= [(k-1) : (n-k) ; α]
Di mana :
α          : Tingkat signifikan atau kesalahan tertentu
n          : Jumlah sampel
k         : Jumlah variabel tidak termasuk intercept
4.      Uji Parsial (Uji t)
Uji ini digunakan untuk mengetahui apakah masing-masing variabel independen secara sendiri-sendiri mempunyai pengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen. Dimana jika thitung > ttabel, H1 diterima (signifikan) dan jika thitung < ttabel, H0 diterima (tidak signifikan). Uji t digunakan untuk membuat keputusan apakah hipotesis terbukti atau tidak, dimana tingkat signifikan yang digunakan yaitu 5%.  Selanjutnya pengujian terhadap koefisien regresi secara individu (parsial) digunakan uji t dengan tingkat kepercayaan tertentu dengan rumus
thit = ……………………………….…...…...(III.V)
Di mana :
βi   : Koefisien regresi ke-i
Sβi   : Kesalahan standar koefisien regresi ke-i

3.4.2. Uji Asumsi Klasik
1.      Uji Normalitas
Uji normalitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan uji Jarque Bera dengan melihat nilai probabilitasnya. Jika nilai probabilitas lebih besar dari derajat kesalahan α =5% (0,05), dan nilai Jarque-Bera < Chi Square tabel maka penelitian ini tidak ada permasalahan normalitas atau dengan kata lain data tersebut adalah normal. Dan sebaliknya, bila probabilitas < 0,05 dan nilai Jarque-Bera> Chi Square tabel maka dalam penelitian ini tidak terdistribusi secara normal
2.      Uji Mulikolinearitas
Farrar dan Glauber serta Gujarati (Rahim, 2012) mengemukakan bahwa multikolinearitas (multicollinearity) atau kolinearitas ganda merupakan kejadian yang menginformasikan terjadinya hubungan antar variabel-variabel bebas yang terdapat dalam model. Masalah utama timbulnya multikolinearitas karena jumlah sampel atau observasi yang sedikit. Kemudian penyimpangan asumsi klasik dapat dideteksi dengan berbagai cara melihat hasil koefisien korelasi antar variabel independen. Penelitian ini menggunakan VIF yang terdapat pada program Eviews.
3.      Uji Heteroskedastisitas
Heteroskedastisitas adalah keadaan dimana faktor gangguan tidak memiliki varian yang sama. Pengujian terhadap heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan melakukan white test yaitu dengan cara meregresi Ei2 dengan variabel bebas, variabel bebas kuadrat dan perkalian variabel bebasdapatkan nilai R2 untuk menghitung χ2, dimana χ2 = Obs*R square (Gujarati,2003).
4.      Uji Autokorelasi
Autokorelasi (autocorrelation) atau serial korelasi merupakan korelasi antara variabel atau sampel satu dengan sampel lainnya dengan kesalahan random observasi lainnya pada anggota sampel yang diurutkan menurut runtun waktu (time series). Pengujian adanya autokorelasi dapat dilakukan dengan metode Durbin Watson (DW) test, Lagrange Multipiler (LM) dan Breusch-Godfrey (B-G) test, serta run test (Rahim, 2012).

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1.Hasil Penelitian dan Pembahasan
4.2.Analisis Regresis Linier Berganda
Untuk mendapatkan hasil regresi antara variabel dependent Cadangan Devisa (Y) dengan variabel independent Ekspor (X1), Inflasi (X2) dan Utang Luar Negeri (X3) diolah dengan menggunakan bantuan program computer Eviews 9. Hasil uji persamaan regresi penelitian ini adalah sebagai berikut :
 CD = -18,67 + 0,34Eks – 0,10Inf +0,24Uln +
            Interpretasi :
β0 = -18,67, artinya ketika variable independent sama dengan nol maka nilai cadangan devisa berkurang sebesar 18,16 Juta US$
β1 = 0,34, artinya ketika variable ekspor naik sebesar 1juta US$ maka akan meningkatkan cadangan devisa sebesar 0,34 juta US$
β2 = -0,10 yaitu ketika variable inflasi naik sebesar 1% maka akan menunrunkan cadangan devisa sebesar 0,10%
β3 = 0,24 , artinya ketika variable utang luar negeri naik 1 juta US$ maka akan meningkatkan nilai cadangan devisa sebesar 0,24US$

4.3.Uji Asumsi Klasik
1.      Uji Normalitas
Berdasarkan hasil penelitian di peroleh nilai JB 0,21< 38,88 dan nilai siginifikasi 0,89 > 0,05α maka dapat di pastikan bahwa data terdistribusi secara normal
2.      Uji Mulikolinearitas
Dari hasil estimasi yang diperoleh maka tidak terdapat gejala multikolinearitas dari model regresi yang diteliti. Karena nilai nilai VIF(4.79,1.08,4,63 ) lebih kecil dari 10.
3.      Uji Heteroskedastisitas
Secara keseluruhan dari hasil estimasi dengan menggunakan uji white dapat di lihat tidak terkena heteroskedastisitas. Hal ini dijelaskan bahwa tingkat signifikansi 0,17 > 0,05 yang artinya variabel penjelas secara statistik tidak signifikan mempengaruhi resedual.
4.      Uji Autokorelasi
Secara keseluruhan dari hasil estimasi Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test dapat di lihat model bebas dari masalah Auto korelasi. Hal ini dijelaskan bahwa tingkat signifikansi 0,55 > 0,05 dan nilai dari Obs*R-squared 1,17< 38,88 Chi square tabel yang artinya variabel tidak terkena Auto Korelasi.
Kesimpulan :
Berdasarkan Uji Asumsi Klasik yang dilakukan dengan menguji Normalitas, Multikolinearitas, Heteroskedastisitas dan Autokorelasi dapat di pastikan bahwa data terbebas dari asumsi klasik

4.4.Uji Statistik
1.      Uji Koefisien Determinasi dan Koefisien Korelasi
Dari hasil estimasi dapat di lihat nilai koefisien determinasi (Ajusted R squared) sebesar 0,977 menunjukan bahwa 97,1 persen variasi naik turunnya Cadangan Devisa (Y) dijelaskan dan di pengaruhi oleh Ekspor (X1), Inflasi (X2) dan Utang Luar Negeri (X3) dan selebihnya sebesar 2,9 persen dijelaskan oleh faktor lain yang tidak di jelaskan dalam penelitian, sedangkan koefisien korelasi r sebesar 0,979 menunjukan  hubungan yang kuat antara Ekspor (X1), Inflasi (X2) dan Utang Luar Negeri (X3) dengan Cadangan Devisa (Y) yaitu sebesar 0,979
2.      Uji Parsial
-          Pengaruh Ekspor terhadap Cadangan Devisa
Berdasarkan perhitungan diperoleh bahwa t-hitung > t-tabel (7,99 > 2,05). Dengan demikian, bahwa variabel independent yaitu Ekspor (X1), mempengaruhi besarnya variabel dependent yaitu Cadangan Devisa (Y) pada tingkat kepercayaan 95 persen
-          Pengaruh Inflasi terhadap Cadangan Devisa
Berdasarkan perhitungan diperoleh bahwa t-hitung > t-tabel (-1,22 > -2,05). Dengan demikian, bahwa variabel independent yaitu inflasi (X2), mempengaruhi besarnya variabel dependent yaitu Cadangan Devisa (Y) pada tingkat kepercayaan 95 persen
-          Pengaruh Utang Luar Negeri terhadap Cadangan Devisa
Berdasarkan perhitungan diperoleh bahwa t-hitung > t-tabel (8,75 > 2,05). Dengan demikian, variabel independent yaitu utang luar negeri (X3), mempengaruhi besarnya variabel dependent yaitu Cadangan Devisa (Y) pada tingkat kepercayaan 95 persen
3.      Uji Simultan
Berdasarkan perhitungan diperoleh bahwa F-hitung > F-tabel (420,35 > 2,991). Dengan demikian, Ho diterima yang artinya bahwa variabel independent yaitu Ekspor (X1), Inflasi (X2) dan Utang Luar Negeri (X3) secara keseluruhan mempengaruhi besarnya variabel dependent yaitu Cadangan Devisa (Y) pada tingkat kepercayaan 95 persen
4.5. Hasil Pengujian
Tabel 4.5.1 Hasil Pengujian
Variabel
Koefisien Teori
Koefisien Regresi
Prob t-test
Pengujian
Konstanta

-18,67
0,000
Uji White :Prob(Chi*R2) = 0,17
Ekspor
+
0,34
0,000
Inflasi
-
-0,10
0,229
Uji LM:
Prob(Chi*R2) = 0,55
Utang Luar Negeri
+
0,24
0,000
R-squared

0,979
F-statistik
420,35
Adjusted R-squared

0,977
Prob F-statistik
0,000

4.6. Pembahasan
1.      Pengaruh Ekspor terhadap Cadangan Devisa
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dengan menggunakan aplikasi eviews 9.0 di dapat nilai ekspor dalam uji persial bahwa t-hitung > t-tabel (7,99 > 2,05) dan nilai prob 0,00<0,05α maka ekspor memiliki pengaruh positif yang kuat terhadap cadangan devisa. Ketika variable ekspor naik sebesar 1juta US$ maka akan meningkatkan cadangan devisa sebesar 0,34 juta US$.
2.      Pengaruh Inflasi terhadap Cadangan Devisa
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dengan menggunakan aplikasi eviews 9.0 di dapat nilai inflasi dalam uji persial bahwa t-hitung > t-tabel (-1,22 > -2,05). dan nilai prob 0,22>0,05α maka inflasi memiliki pengaruh negative namun tidak signifikan terhadap cadangan devisa. Ketika variable inflasi naik sebesar 1% maka akan menunrunkan cadangan devisa sebesar 0,10%.
3.      Pengaruh Utang Luar Negeri terhadap Cadangan Devisa
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dengan menggunakan aplikasi eviews 9.0 di dapat nilai utang luar negeri dalam uji persial t-hitung > t-tabel (8,75 > 2,05). dan nilai prob 0,22>0,05α maka utang luar negeri memiliki pengaruh negative namun tidak signifikan terhadap cadangan devisa. Ketika utang luar negeri naik 1 juta US$ maka akan meningkatkan nilai cadangan devisa sebesar 0,24US$

BAB V
PENUTUP
5.1. Kesimpulan
Berdasarkan analisis yang dilakukan dalam penelitian ini, dapat di tarik kesimpulan :
1)      Berdasarkan uji asumsi klasik (Uji Normalitas, Uji Multikolinearitas, Uji Heteroskedastisitas dan Uji Autokorelasi) dapat di pastikan data terbebas dari asumsi klasik
2)      Berdasarkan hasil regresi di peroleh bahwa :
a.       Secara simultan, ekspor, inflasi dan utang luar negeri berpengaruh signifikan terhadap perubahan cadangan devisa Indonesia periode 1988-2017
b.      Ekspor mempengaruhi Cadangan Devisa secara signifikan. Dimana ekspor mempunyai hubungan yang positif terhadap cadangan devisa periode 1988-2017
c.       Inflasi mempengaruhi Cadangan Devisa secara signifikan. Dimana utang luar negeri mempunyai hubungan yang negative terhadap cadangan devisa periode 1988-2017
d.      Utang luar negeri mempengaruhi Cadangan Devisa secara signifikan. Dimana utang luar negeri mempunyai hubungan yang positif terhadap cadangan devisa periode 1988-2017
Jadi untuk meningkatkan cadangan devisa Indonesia maka harus meningkatkan jumlah ekspor Indonesia baik migas maupun non migas, dan meningkatkan utang luar negeri secara bertahap untuk menjaga cadangan devisa serta menjaga tingkat inflasi agar tidak semakin membesar karena akan berdampak negative terhadap cadangan devisa
5.2. Saran
1.      Bank Indonesia sebagai pihak otoritas moneter di Indonesia harus menjaga keseimbangan cadagan devisa. Karena cadangan devisa merupakan indikator kekuatan perekonomian suatu negara serta kemampuan suatu negara dalam melakukan pembiayaan perdagangan internasional. Ekspor merupakan penyumbang hasil yang besar bagi cadangan devisa Indonesia. Diharapkan Pemerintah melakukan kebijakan ekspor barang ke luar negeri. Strategi yang dapat diambil adalah mendorong ekspor dan membangun sentra industri serta belajar dari industri luar agar mendapat hasil yang maksimal dan hasil produksi mampu bersaing di pasar internasional.
2.      Pemerintah dan Bank Sentral dapat senantiasa menjaga agar inflasi tetap stabil sehingga dapat dan meningkatkan ekspor untuk memperkuat dan menjaga cadangan devisa Indonesia dengan cara menjual atau membeli mata uang domestik.
3.      Untuk menambah cadangan devisa pemerintah sebaliknya mencari sumber- sumber yang memang akan menguntungkan, salah satunya dengan meningkatkan ekospor dan meminimalisir hal-hal yang akan mengurangi cadangan devisa seperti tingkat inflasi yang makin tinggi di  Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA

Adiadnya, Made Santana Putra. “Analisis Pengaruh Inflasi, Kurs Dollar Amerika, Suku Bunga Kredit dan Utang Luar Negeri Terhadap Cadangan Devisa Indonesia Tahun 1996-2015. Jurnal Riset Akuntansi Juara ,Vol.7 No.1,Februari 2017. Halaman : 68-78

Agustina, Reny.(2004). “Pengaruh Ekspor,Impor, Nilai Tukar Rupiah dan Tingkat Inflasi Terhadap Cadangan Devisa Indonesia”. Jurnal Wira Ekonomi Mikroskil, Volume 4, Nomor 02, Oktober 2014. Halaman : 61-70

Benny, Jimmy.(2015).“Ekspor dan impor pengaruhnya terhadap posisi cadangan Sdevisa Indonesia” Vol.1 No.4 Desember 2013. No.4.ISSN : 2303-1174

Gujarati, Damodar N. 2006. Dasar-dasar Ekonometrika Jilid 1 dan 2. Edisi Ketiga. Erlangga. Jakarta.

https://www.bi.go.id/

https://www.bps.go.id/

Putra, I. B. P. P. dan Indrajaya, I. G. B., 2013, Pengaruh Tingkat Inflasi, Utang Luar Negeri, dan Suku Bunga Kredit Terhadap Cadangan Devisa Indonesia Tahun 1996-2011, Jurnal Ekonomi Pembangunan Universitas Udayana, Vol 2, No. 11, Penerbit Universitas Udayana, Bali

Ramadhan, V.L, Evi, Susanti, dan Kasman, K., 2014, Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Cadangan Devisa Indonesia (1984-2013), Skripsi, Universitas Bung Hatta, Sumatera Barat.

Ridho, Muhammad.(2015).”Pengaruh Ekspor, Hutang Luar Negeri dan Kurs Terhadap Cadangan Devisa Indonesia” . e-Jurnal Perdagangan, Industri dan Moneter, Vol. 3. No.1, Januari – April 2015. No.1.ISSN : 2303-1204.

Sayoga, Pundi.(2017). “Analisis Cadangan Devisa Indonesia dan Faktor-faktor Yang Mempengaruhinya”. Jurnal Paradigma Ekonomika Vol. 12. No. 1, Januari—Juni 2017, No.1. ISSN: 2085-1960

Sonia, Agnes Putri.(2016). “Pengaruh Kurs,JUB dan Tingkat Inflasi Terhadap Ekspor, Impor dan Cadangan Devisa”. E-JURNAL EKONOMI PEMBANGUNAN UNIVERSITAS UDAYANA, Vol.5, No.10 Oktober 2016. No.10. ISSN: 2303-0178

Suryaningsih, R. T. E. Y., 2008,  Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Cadangan Devisa, Skripsi, Universitas Sumatera Utara, Medan.




LAMPIRAN
Lampiran 1. Data Penelitian
Tahun
Ekspor
(Juta US$)
Inflasi
(%)
Utang Luar Negeri
(Juta US$)
Cadangan Devisa
(Juta US$)
1988
19,22
8,9
32,13
6,19
1989
22,16
5,47
56,39
6,56
1990
25,68
5,97
58,24
8,66
1991
29,14
9,53
65,07
9,87
1992
33,97
9,52
69,94
11,61
1993
36,82
4,94
71,18
12,35
1994
40,05
9,77
88,37
13,16
1995
45,42
9,24
98,43
14,67
1996
49,81
8,6
96,71
19,13
1997
53,44
6,5
100,33
21,42
1998
48,85
11,1
122,03
23,76
1999
48,67
77,63
148,09
27,05
2000
62,12
2,01
141,69
29,39
2001
56,32
9,35
133,07
28
2002
57,16
12,55
131,34
32,04
2003
61,06
10,03
135,4
36,3
2004
71,58
5,06
137,02
36,32
2005
85,66
6,4
130,65
34,72
2006
100,8
17,11
128,74
42,59
2007
114,1
6,6
136,64
56,92
2008
137,02
6,59
155,08
51,64
2009
116,51
11,06
172,87
66,1
2010
157,78
2,78
202,41
96,21
2011
203,5
6,96
225,38
110,12
2012
190,02
3,79
252,36
112,78
2013
182,55
4,3
266,11
99,39
2014
175,98
8,38
293,77
111,86
2015
150,36
8,36
310,72
105,93
2016
145,18
3,35
320,006
116,36
2017
168,81
3,02
352,24
130,19
Sumber : Badan Pusat Statistik dan Bank Indonesia
Lampiran 2. Data Normalitas

Lampiran 3. Data Regresi Linier Berganda
Dependent Variable: CDV


Method: Least Squares


Date: 04/07/18   Time: 10:39


Sample: 1988 2017


Included observations: 30












Variable
Coefficient
Std. Error
t-Statistic
Prob.  










C
-18.67935
2.547935
-7.331173
0.0000
EKSPOR
0.340005
0.042519
7.996468
0.0000
INFLASI
-0.109308
0.088901
-1.229540
0.2299
ULN
0.248117
0.028327
8.758923
0.0000










R-squared
0.979799
    Mean dependent var
49.04300
Adjusted R-squared
0.977468
    S.D. dependent var
40.55806
S.E. of regression
6.088038
    Akaike info criterion
6.574095
Sum squared resid
963.6694
    Schwarz criterion
6.760921
Log likelihood
-94.61142
    Hannan-Quinn criter.
6.633862
F-statistic
420.3523
    Durbin-Watson stat
1.473464
Prob(F-statistic)
0.000000













Lampiran 4 Data Multikolinieritas
Variance Inflation Factors

Date: 04/07/18   Time: 10:40

Sample: 1988 2017

Included observations: 30










Coefficient
Uncentered
Centered
Variable
Variance
VIF
VIF








C
 6.491971
 5.254642
 NA
EKSPOR
 0.001808
 16.56207
 4.799074
INFLASI
 0.007903
 1.698423
 1.080404
ULN
 0.000802
 20.12393
 4.637602









Lampiran 5 Data Heteroskedastisitas
Heteroskedasticity Test: White











F-statistic
1.651892
    Prob. F(9,20)
0.1674
Obs*R-squared
12.79176
    Prob. Chi-Square(9)
0.1723
Scaled explained SS
9.699526
    Prob. Chi-Square(9)
0.3754










Lampiran 6  Data Autokorelasi
Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test:











F-statistic
0.490662
    Prob. F(2,24)
0.6182
Obs*R-squared
1.178469
    Prob. Chi-Square(2)
0.5548













0 komentar:

Post a Comment